Skip to main content

Sistem Kardiovaskular

1.HIPERTENSI dengan ARITMIA (3B)

Nyonya A, usia 45 tahun, datang ke puskesmas dengan keluhan kepala sering terasa berat sudah satu minggu, disertai jantung terasa berdebar-debar sejak dua hari yang lalu. Sudah dua minggu pasien merasa gelisah dan tidur agak susah. Pasien suka makan asin. Tidak ada riwayat DM & Hipertensi sebelumnya. Ayah pasien meninggal karena stroke. Tidak ada demam, mual, muntah. Tidak ada keluhan lain.

Hasil pemeriksaan fisik : Tensi 160/100, Nadi 112 x/menit, tidak teratur, RR 20x/menit, Suhu 37˚C, BB 60 kg, TB 150 cm, pemeriksaan paru normal, jantung tidak membesar, S1S2 tunggal, tidak ada murmur, irama jantung lebih cepat & tidak teratur. Status neurologis normal. Lain-lain dalam batas normal. Diagnosis dokter Hipertensi stage 2 dengan aritmia

Berikan terapi farmakologi dengan penulisan resep sesuai kaidah yang benar ! Jelaskan alasan pemilihan obatnya!

Resep

dr. Danial Habri

SIP 111239286

Jl. Kedung Sroko 48 Surabaya

Surabaya, 7 Oktober 2024



R/ Tab. Captopril 12.5 mg No. XXX

    S 1 dd tab 1 a.c

    —————————————————— paraf

 R/ Tab. Bisoprolol 5 mg No. XXX

    S 1 dd tab 1 

    —————————————————— paraf











pro : Ny. A

umur/BB : 45 tahun 

alamat : -


Rasionalisasi terapi

Pemilihan terapi antihipertensi pada pasien ini didasarkan atas beberapa pertimbangan. Pasien ini terdiagnosis sebagai hipertensi karena tekanan darah pada pengukuran di klinik sudah melebihi 140 mmHg (sistolik) dan/atau 90 mmHg (diastolik). Sesuai dengan pedoman tata laksana farmakologis hipertensi ESC 2024, dianjurkan untuk memberikan terapi kombinasi dua obat antihipertensi dosis rendah dari kelas ACEi/ARB/calcium channel blockers(CCB)/diuretik. Akan tetapi, pada pasien ini, didapatkan juga takiaritmia (tipe aritmianya belum diketahui). Oleh sebab itu, perlu dipertimbangkan obat-obatan lain sebagai rate and rhythm control (mengontrol laju denyut jantung dan juga irama jantung). Menurut guideline tata laksana hipertensi dan aritmia dari ESC tahun 2023, pada kelompok pasien dengan hipertensi dan resting HR >80-85, serta beberapa jenis aritmia seperti SVT dan AF, beta blocker dapat dipertimbangkan untuk diberikan.

Blood pressure categories.
Diagnosis dan klasifikasi tekanan darah (ESC 2024)

Tata laksana farmakologis hipertensi (ESC 2024); European Heart Journal, ehae178, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehae178
Published:
 
30 August 2024

  • Pada semua kelompok pasien: An increased resting heart rate (>80–85 bpm), portends an adverse prognosis, not only in patients with CAD and HF but also in HTN patients. Routine HR lowering using beta-blockers or other agents may be considered in HTN subjects uncomplicated by other comorbidities (e.g. impaired LV function).
  • Pada pasien dengan SVT: Intravenous diltiazem, verapamil, or beta-blockers are recommended for patients with hemodynamically stable patients.
  • Pada pasien dengan AF: Persistent as well as permanent AF is common in elderly hypertensive patients, often associated with HfpEF, where rhythm control may not be an option. A beta-blocker or non-dihydropyridine calcium blocker may be considered for rate control in these patients...

(European Heart Journal - Cardiovascular Pharmacotherapy, Volume 3, Issue 4, October 2017, Pages 235–250, https://doi.org/10.1093/ehjcvp/pvx019)

Pilihan obat

Captopril

MoA

Captopril, sebuah inhibitor ACE (Angiotensin-Converting Enzyme), menghambat efek dari sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS). Captopril, salah satu dari sedikit inhibitor ACE yang bukan merupakan prodrug, berkompetisi dengan ATI untuk mengikat ACE dan menghambat proteolisis enzimatik ATI menjadi ATII. Penurunan kadar ATII dalam tubuh mengurangi tekanan darah dengan cara menghambat efek peningkat tekanan darah yang disebabkan oleh ATII.

  • RAAS adalah mekanisme homeostatis yang mengatur hemodinamik, keseimbangan air, dan elektrolit. Selama stimulasi simpatik atau ketika tekanan darah atau aliran darah ke ginjal berkurang, renin dilepaskan dari sel granular pada aparatus jukstaglomerular di ginjal. 
  • Di dalam aliran darah, renin memecah angiotensinogen yang beredar menjadi angiotensin I (ATI), yang kemudian diubah menjadi angiotensin II (ATII) oleh ACE. 
  • ATII meningkatkan tekanan darah melalui beberapa mekanisme. Pertama, ATII merangsang sekresi aldosteron dari korteks adrenal yang meningkatkan reabsorpsi natrium dan air di tubulus ginjal
  • Kedua, ATII merangsang sekresi vasopresin/ADH dari kelenjar hipofisis posterior yang merangsang reabsorpsi air lebih lanjut di ginjal melalui kanal aquaporin-2 pada tubulus distal dan tubulus pengumpul. 
  • Ketiga, ATII meningkatkan tekanan darah melalui vasokonstriksi langsung pada arteri.
Khasiat
Antihipertensi, antiremodelling pada gagal jantung kronis, disfungsi ventrikel kiri pasca MI, nefropati diabetik.

Efek samping
Signifikan: Insufisiensi ginjal, hiperkalemia, batuk kering yang persisten; neutropenia atau agranulositosis, trombositopenia, anemia; proteinuria (terutama pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau dosis tinggi); angioedema pada wajah, selaput lendir, bibir, dan ekstremitas. Jarang, hipotensi, angioedema usus.

Interaksi obat
  • Aliskiren: Captopril tidak boleh diberikan bersamaan dengan aliskiren pada pasien dengan diabetes.
  • Angiotensin-II receptor blockers: Terapi ganda yang memblokade sistem renin-angiotensin-aldosterone (RAAS) dengan ARB dan ACE inhibitor meningkatkan risiko gagal ginjal dan hiperkalemia. Kombinasi ini tidak dianjurkan.
  • NSAID: Efek antihipertensi captopril berkurang oleh NSAID. NSAID juga dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal dan potensi cedera ginjal akut.
  • Diuretik: Diuretik meningkatkan risiko hipotensi dan cedera ginjal akut ketika diberikan bersamaan dengan captopril. Optimalkan dan monitor status volume sebelum memulai terapi.
  • Lithium: Terapi bersamaan dengan lithium dan ACE inhibitor meningkatkan konsentrasi serum lithium dan risiko toksisitas lithium.
  • Digoxin: Penggunaan captopril bersamaan dengan digoxin meningkatkan kadar serum digoxin, terutama pada gagal jantung kongestif yang parah. Gunakan dengan hati-hati.

Dosis dan sediaan
Hipertensi  
Dewasa: 
  • Sebagai monoterapi atau dalam kombinasi dengan agen antihipertensi lainnya (misalnya diuretik tiazid): Dosis awitan, 25-50 mg per hari dalam 2 dosis terbagi; dapat ditingkatkan secara bertahap dengan interval setidaknya 2 minggu hingga 100-150 mg per hari dalam 2 dosis terbagi sesuai kebutuhan untuk mencapai tekanan darah target. Dosis satu kali sehari mungkin sesuai jika diminum dengan agen antihipertensi lainnya. 
  • Pasien dengan sistem renin-angiotensin-aldosteron yang sangat aktif (misalnya hipovolemia, hipertensi renovaskular, dekompensasi jantung): Awalnya, 6,25 mg atau 12,5 mg sebagai dosis tunggal; dapat ditingkatkan secara bertahap hingga 50 mg per hari, atau 100 mg per hari jika diperlukan, dalam 1 atau 2 dosis terbagi.
Sediaan: tablet


Cara dan waktu pemberian obat
Captopril harus diminum 1 jam sebelum makan. 

Bisoprolol
MoA
Bisoprolol menurunkan denyut jantung (kronotropi), menurunkan kontraktilitas (inotropi), dan mengurangi tekanan darah. Efek terapeutik dicapai melalui antagonisme reseptor β1-adreno yang menghasilkan output jantung yang lebih rendah. Bisoprolol adalah antagonis β1-adrenergik yang kompetitif dan kardioselektif. Ketika reseptor β1 (terutama terletak di jantung) diaktifkan oleh neurotransmiter adrenergik seperti epinefrin, tekanan darah dan denyut jantung meningkat, menyebabkan kerja kardiovaskular yang lebih besar dan meningkatkan kebutuhan oksigen. Bisoprolol mengurangi beban kerja jantung dengan menurunkan kontraktilitas dan kebutuhan oksigen melalui inhibisi kompetitif reseptor β1-adrenergik. Bisoprolol juga diduga mengurangi keluaran renin di ginjal, yang biasanya meningkatkan tekanan darah. Selain itu, beberapa efek sistem saraf pusat dari bisoprolol mungkin termasuk penurunan keluaran sistem saraf simpatik dari otak, yang mengakibatkan penurunan tekanan darah dan denyut jantung.

Khasiat
Bisoprolol diindikasikan untuk pengobatan hipertensi ringan hingga sedang. Dapat digunakan secara off-label untuk mengobati gagal jantung, fibrilasi atrium, dan angina pektoris.

Efek samping
Gangguan jantung: Bradikardia, memburuknya gagal jantung yang sudah ada sebelumnya (pada pasien dengan gagal jantung kronis).  
Gangguan gastrointestinal: Mual, muntah, konstipasi, diare.  
Gangguan umum dan kondisi tempat pemberian: Kelelahan, asthenia.  
Gangguan sistem saraf: Sakit kepala, pusing.  
Gangguan vaskular: Rasa dingin atau mati rasa di ekstremitas, hipotensi.

Interaksi obat
Kontraindikasi  
Kegagalan jantung akut atau selama episode dekompensasi jantung yang memerlukan terapi inotropik IV; bradikardia simptomatik; syok kardiogenik, blok atrioventrikular derajat 2 dan 3 (tanpa alat pacu jantung), blok sinoatrial, asma bronkial berat atau COPD; sindrom sinus sick, hipotensi simptomatik; penyakit oklusi arteri perifer berat, sindrom Raynaud yang parah; asidosis metabolik, feokromositoma yang tidak diobati.

Interaksi Obat  
  • Meningkatkan risiko angioedema dengan penghambat TOR (misalnya sirolimus, everolimus, temsirolimus) dan vildagliptin. Meningkatkan risiko hiperkalemia dengan diuretik yang menghemat kalium (misalnya spironolakton, triamteren, amilorid), suplemen kalium atau pengganti garam yang mengandung kalium, atau obat lain yang terkait dengan peningkatan serum K (misalnya heparin, sulfametoksazol/trimetoprim). Pengobatan sebelumnya dengan diuretik thiazide dosis tinggi atau diuretik loop dapat mengakibatkan deplesi volume dan risiko hipotensi saat memulai terapi dengan captopril. Dapat meningkatkan kadar lithium serum dan gejala toksisitas lithium. Meningkatkan efek hipotensif dengan agen antihipertensi lain (misalnya a- atau B-blocker, penghambat saluran Ca jangka panjang).  
  • Dapat memperkuat efek hipotensif dari beberapa TCA dan antipsikotik. Meningkatkan risiko leukopenia dengan allopurinol, prokainamid, agen sitostatik atau imunosupresif. Penurunan pembersihan ginjal dengan probenesid.  
  • Pemberian bersamaan dengan NSAID (misalnya ibuprofen, indometasin), termasuk penghambat COX-2 selektif dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Simpatomimetik dapat mengurangi efek antihipertensi dari captopril. Dapat memperkuat efek penurun glukosa darah dari insulin dan antidiabetik oral (misalnya sulfonilurea).  
  • Reaksi nitritoid (misalnya kemerahan wajah, mual, muntah, hipotensi) dapat terjadi saat digunakan bersamaan dengan emas injeksi (Na aurothiomalate). Meningkatkan risiko hipotensi dengan agen anestesi.  
  • Potensial Fatal: Meningkatkan risiko hipotensi, hiperkalemia, dan perubahan fungsi ginjal (termasuk gagal ginjal akut) dengan aliskiren. Meningkatkan risiko angioedema dengan penghambat neprilisin (misalnya sakubitril).
Dosis dan sediaan
Angina pektoris, Hipertensi  
Dewasa: Awalnya, 5 mg sekali sehari. Dosis pemeliharaan yang biasa: 10 mg sekali sehari.  
Maksimal: 20 mg sehari. Sesuaikan dosis sesuai dengan kebutuhan individu.


Cara dan waktu pemberian obat
Bisoprolol diminum dalam perut kosong.

Antiaritmia (Vaughan-William Classification)




Antihipertensi
  • ACEi/ARB
  • CCB
  • Beta blocker
  • Diuretic
  • Alpha antagonist
  • Methyldopa

2.ANGINA PEKTORIS (3B)

Tuan B, 54 tahun, datang ke tempat praktek dokter dengan keluhan rasa tidak nyaman di dada sebelah kiri rasa seperti ditekan. Nyeri juga dirasakan pada lengan kiri dan punggung kiri disertai keluar keringat dingin. Keluhan dirasakan selama 3 menit, sekitar 1 jam yang lalu saat mandi. Keluhan agak berkurang saat dibuat istirahat berbaring. Tidak ada mual & muntah, demam, nyeri kepala, nyeri perut. Buang air besar & air kecil lancar. Pasien menderita Hipertensi sejak 2 tahun yang lalu, berobat tidak teratur. Kebiasaan merokok sekitar 15 batang perhari, suka makanan berlemak, tidak pernah berolah raga. Ayahnya dulu meninggal karena serangan jantung.

Hasil pemeriksaan fisik Tensi 170/90, Nadi 88x/menit, RR 20x/menit,  suhu 36,8˚C,  Batas jantung kiri melebar, S1S2 tunggal, pemeriksaan fisik lain dalam batas normal. EKG ada depresi segmen ST & inversi gelombang T. Dokter mendiagnosis Hipertensi stage 2 dengan Angina Pektoris

Berikan terapi farmakologi dengan penulisan resep sesuai kaidah yang benar ! Jelaskan alasan pemilihan obatnya !

Resep

dr. Danial Habri

SIP 111239286

Jl. Kedung Sroko 48 Surabaya

Surabaya, 7 Oktober 2024



R/ Tab. ISDN Sublingual 5 mg No. X

    S u.c

    —————————————————— paraf

 R/ Tab. Aspirin 100 mg No. XXX

    S 1 dd tab 3 (single dose), lanjutkan 1 dd tab 1 p.c. 

    —————————————————— paraf

R/ Tab. Clopidogrel 75 mg No. XXX

   S 1 dd tab 4 (single dose), lanjutkan 1 dd tab 1

    —————————————————— paraf

 R/ Tab. Bisoprolol 5 mg No. XXX

    S 1 dd tab 1 

    —————————————————— paraf

R/ Tab. Captopril 25 mg No. XXX

    S 1 dd tab 1 a.c

    —————————————————— paraf

 R/ Tab. Atorvastatin 40 mg No. XXX

    S 1 dd tab 1 

    —————————————————— paraf

 R/ Nasal cannula oksigen dewasa No. I

    S i.m.m

    —————————————————— paraf






pro : Tn. B

umur/BB : 54 tahun 

alamat : -


Rasionalisasi terapi

Pada pasien ini, terdapat typical angina yang merupakan tanda adanya iskemia pada miokardium akibat oklusi pada arteri koronaria. Dari anamnesis, didapatkan bahwa pasien memiliki faktor risiko kardiovaskular tradisional baik yang mayor/minor seperti HT, merokok, diet tinggi lemak, gaya hidup sedenter, dan riw. penyakit jantung di keluarga. Pada pemeriksaan fisik didapatkan semua dalam batas normal, akan tetapi dari elektrokardiografi didapatkan adanya segmen ST & inversi gelombang T, yang jika ditemukan pada pasien dengan typical angina  merupakan spektrum dari NSTE-ACS (non ST-elevation acute coronary syndrome). Oleh karena itu, pada pasien ini tatalaksana awal harus mengikuti guideline yang telah ditetapkan, pada kasus ini digunakan guideline dari ESC tahun 2023.

Prinsip utama dari tatalaksana farmakologis pada suatu ACS/SKA (sindroma koroner akut) adalah meningkatkan suplai oksigen ke miokardium, menurunkan demand oksigen miokardium, serta mencegah terbentuknya trombus yang semakin masif pada plak aterosklerosis yang ruptur dan juga menstabilkan plak aterosklerosis. Meningkatkan suplai oksigen ke miokardium dapat dicapai dengan pemberian obat vasodilator dari golongan nitrogliserin, pada pasien ini dipilih ISDN sublingual. ISDN bekerja sebagai vasodilator arteri koronaria, yang dapat meningkatkan suplai oksigen dan nutrien ke mikoardium sehingga harapannya dapat meringankan gejala angina dan menunda terjadinya iskemia berkepanjangan dari miokardium. Pemberian terapi oksigen juga diharapkan dapat mencapai target ini. Untuk mengurangi demand/kebutuhan oksigen dari miokardium, dipilih obat dari golongan beta blocker yaitu bisoprolol dan ACEi yaitu captopril. Bisoprolol dapat menurunkan denyut jantung (kronotropi negatif) dan kontraktilitas jantung (inotropi negatif) sehingga kebutuhan oksigen jantung turun, serta meningkatkan waktu diastolik dari jantung sehingga aliran darah menuju miokardium melalui arteri koronaria dapat meningkat. Sementara itu, captopril diberikan untum menurunkan afterload dari jantung dan mengurangi beban kerja jantung, serta dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien ACS menurut banyak penelitian dengan efek antiremodellingnya.

Target terapi yang ketiga adalah mencegah terbentuknya trombus yang semakin ekstensif serta menstabilkan plak aterosklerosis, yang dapat dicapai dengan terapi antitrombotik. Terapi antitrombotik yang dipilih sesuai dengan guideline adalah dual antiplatelet therapy (DAPT) dengan antiplatelet berupa aspirin dan P2Y12 inhibitor berupa clopidogrel. Keduanya diberikan bersamaan dalam dosis loading, dan dilanjutkan dalam dosis maintenance. Selain itu, diberikan stabilisator plak berupa statin dosis tinggi dari golongan atorvastatin yang berjuga berfungsi menurunkan kadar kolesterol darah dan mencegah terjadi kejadian ACS ulang.

Obat captopril dan bisoprolol sudah dibahas di no. 1

ISDN (isosorbide dinitrate)
MoA
Isosorbida dinitrat adalah vasodilator organik nitrat yang membentuk oksida nitrat bebas, yang merangsang guanilat siklase dan meningkatkan guanosin 3'5' monofosfat (cGMP), sehingga melemaskan otot polos vaskular dan melebarkan arteri serta vena perifer. Tindakan ini meningkatkan pengumpulan darah di perifer dan mengurangi kembalinya darah vena ke jantung, sehingga menurunkan tekanan diastolik akhir ventrikel kiri dan tekanan irisan kapiler paru (preload). Obat ini juga dapat sedikit mengurangi resistensi vaskular sistemik, tekanan arteri sistolik, dan tekanan arteri rata-rata.

Khasiat
Antiangina, vasodilator

Efek samping
- Hipotensi ortostatik atau berat
- Sinkop
- Toleransi dan cross-toleransi terhadap nitrat lainnya
- Dapat memicu hemolisis (pada pasien dengan defisiensi G6PD)
- Peningkatan tekanan intrakranial
- Sakit kepala (terutama selama pengobatan awal)

Interaksi obat
- Dapat bertindak sebagai antagonis fisiologis terhadap norepinefrin, asetilkolin, histamin, dan agen lainnya.
- Dapat memperkuat efek hipotensi jika digunakan bersama agen antihipertensi lainnya (misalnya, penghambat saluran kalsium, penghambat β, penghambat reseptor angiotensin II).
- Dapat menyebabkan hipotensi ortostatik jika digunakan bersamaan dengan fenotiazin, inhibitor MAO, dan antidepresan trisiklik (TCA).
- Penggunaan bersamaan pada pasien yang sudah menerima inhibitor ACE dapat menyebabkan gejala kolaps sirkulasi.
- Risiko hipotensi berat, iskemia miokard, atau sinkop meningkat jika digunakan bersama penghambat PDE5 (misalnya, sildenafil, vardenafil, tadalafil).
- Risiko hipotensi meningkat jika digunakan bersama riociguat.

Dosis dan sediaan
Angina pectoris 
Profilaksis dan pengobatan:
Sebagai tablet konvensional: 20-120 mg per hari dalam dosis terbagi sesuai dengan kebutuhan individu. Dosis ditingkatkan secara bertahap untuk meminimalkan risiko sakit kepala akibat nitrat dan/atau toleransi. Maksimal: 240 mg per hari dalam dosis terbagi.  

Regimen dosis alternatif untuk profilaksis:
Awalnya, 5-20 mg dua hingga tiga kali sehari (bid atau tid); pemeliharaan: 10-40 mg dua hingga tiga kali sehari; disarankan interval bebas dosis harian minimal 14 jam antara dosis malam dan pagi.  

Sebagai tablet lepas lambat: 20 mg dua kali sehari (dosis kedua diberikan 6-8 jam setelah dosis pertama hari itu). Dosis dapat ditingkatkan menjadi 20 mg tiga kali sehari (pastikan ada interval bebas pengobatan minimal 12 jam setiap 24 jam).

Sublingual:
Profilaksis angina akut: 5-10 mg setiap 2-3 jam. Dosis tambahan sebesar 5-10 mg dapat diberikan sebelum aktivitas atau situasi yang menimbulkan stres yang dapat memicu serangan angina.

Cara dan waktu pemberian obat
Diminum dalam perut kosong (tablet) atau di bawah lidah (sublingual).

Aspirin
MoA
Aspirin adalah obat salisilat yang memiliki aktivitas analgesik, anti-inflamasi, dan antipiretik. Aspirin bertindak sebagai penghambat tidak reversibel enzim siklooksigenase-1 dan 2 (COX-1 dan 2), yang mengakibatkan penghambatan langsung biosintesis prostaglandin. Obat ini menghambat agregasi trombosit melalui asetilasi siklooksigenase trombosit, sehingga mencegah secara tidak reversibel pembentukan tromboksan A2, yang berperan dalam agregasi trombosit.

Khasiat
Analgetik, antipiretik, antiplatelet

Efek samping
Bronkospasme, serangan asma, reaksi hipersensitivitas, waktu perdarahan yang berkepanjangan; penurunan ekskresi asam urat (penggunaan dosis rendah); anemia hemolitik (pada pasien dengan defisiensi G6PD), sakit kepala akibat penggunaan obat berlebihan (penggunaan jangka panjang), salisilat (penggunaan dosis besar berulang).

Interaksi obat
Peningkatan risiko perdarahan dapat terjadi ketika aspirin digunakan bersamaan dengan agen antiplatelet lain (misalnya clopidogrel, dipyridamole), antikoagulan (misalnya heparin, warfarin), dan trombolitik. Risiko perdarahan gastrointestinal atau ulserasi juga meningkat jika digunakan bersamaan dengan NSAID lain, SSRI (misalnya sertraline, paroxetine), dan kortikosteroid.

Dosis dan sediaan
Infark Miokard, Serangan Iskemik Transien, Angina Tidak Stabil
Dewasa: Pengobatan awal: Dosis muatan sebesar 150-300 mg. 

Cara dan waktu pemberian obat
Diminum dengan makanan.

Clopidogrel
MoA
Clopidogrel secara selektif dan tidak dapat dibalik menghambat adenosin difosfat (ADP) dari mengikat reseptor P2Y 12 platelet dan aktivasi kompleks glikoprotein IIb/IIIa yang dimediasi ADP selanjutnya, sehingga mengurangi agregasi platelet.

Khasiat
Antiagregasi platelet padad kasus SKA dan profilaksis tromboemboli.

Efek samping
Hipersensitivitas obat silang (misalnya ruam, angioedema, reaksi hematologis) di antara thienopyridines; waktu perdarahan yang berkepanjangan. Jarang, hemofilia yang didapat.

Interaksi obat
Clopidogrel adalah obat prodrug yang dimetabolisme terutama oleh enzim CYP2C19 menjadi bentuk aktifnya. Varian gen CYP2C19 diketahui berhubungan dengan respons yang meningkat atau menurun terhadap clopidogrel. Prevalensi poor metaboliser CYP2C19 diperkirakan sekitar 2% pada orang Kaukasia, 4% pada orang Afrika-Amerika, dan 14% pada orang Tionghoa. Pengujian genetik sebelum memulai terapi adalah alat yang efektif untuk mengidentifikasi apakah pasien homozigot untuk alel fungsional atau non-fungsional.

Peningkatan risiko perdarahan dengan aspirin, antikoagulan, antiplatelet, NSAID termasuk inhibitor siklooksigenase 2 (COX-2), trombolitik, inhibitor glikoprotein IIb/IIIa, SSRI, dan inhibitor reuptake serotonin norepinefrin. Efek antiplatelet dapat berkurang jika diberikan dengan inhibitor CYP2C19 sedang atau kuat (misalnya esomeprazole, omeprazole, fluvoxamine, moclobemide, voriconazole, ticlopidine, carbamazepine, efavirenz). Dapat meningkatkan konsentrasi plasma substrat CYP2C8 (misalnya repaglinide, paclitaxel). Penyerapan dapat tertunda dan berkurang oleh agonis opioid (misalnya morfin).

Dosis dan sediaan
Dalam pengelolaan infark miokard dengan elevasi segmen ST akut (STEMI): Dalam kombinasi dengan aspirin (dengan atau tanpa trombolitik): Usia di atas 75 tahun, dosis awal 300 mg diikuti dengan 75 mg sekali sehari. Pengobatan kombinasi harus dimulai sedini mungkin setelah gejala muncul dan dilanjutkan selama setidaknya 4 minggu. 

Dalam pengelolaan infark miokard tanpa elevasi segmen ST (NSTEMI) atau angina tidak stabil, termasuk pada pasien yang menjalani pemasangan stent setelah intervensi koroner perkutan (PCI): Dalam kombinasi dengan aspirin: Dosis awal 300 mg, diikuti dengan 75 mg sekali sehari.

Cara dan waktu pemberian obat
Dengan/tanpa makanan.

Atorvastatin
MoA
Aksi: Atorvastatin secara selektif dan kompetitif menghambat 3-hidroksi-3-metilglutaril koenzim A (HMG-CoA) reduktase, enzim pengatur laju dalam sintesis kolesterol. Aksi ini mengakibatkan peningkatan kompensasi dalam ekspresi reseptor LDL pada membran hepatosit dan, selanjutnya, peningkatan penyerapan dan pembersihan LDL-C dari darah.

Khasiat
Menurunkan kadar kolesterol LDL serum.

Efek samping
Signifikan: Myalgia, miositis, miopati; peningkatan serum transaminase, serum kreatinin kinase, HbA1c, dan kadar gula darah puasa. Jarang, miopati nekrotik imun (IMNM), penyakit paru interstisial, serta memperburuk atau memicu myasthenia gravis. 

Gangguan gastrointestinal: Diare, sembelit, kembung, dispepsia, mual. 

Gangguan umum dan kondisi lokasi administrasi: Malais, asthenia, kelelahan.

Interaksi obat
Dapat meningkatkan risiko miopati dan rabdomiolisis dengan inhibitor CYP3A4 sedang atau kuat (misalnya, klaritromisin, eritromisin, ketokonazol, vorikonazol, itrakonazol, posakonazol, diltiazem, verapamil, beberapa antivirus untuk hepatitis C, penghambat protease HIV), inhibitor protein transport (misalnya, letermovir), gemfibrozil atau turunan asam fibrit, niasin, ezetimibe, dan kolkisin. 

Konsentrasi plasma menurun dengan inducer CYP3A4 (misalnya, efavirenz, rifampisin), antasida yang mengandung Al dan Mg, colestipol. Dapat meningkatkan konsentrasi plasma digoksin, norethisterone, dan etinil estradiol.

Dosis dan sediaan
Dosis disesuaikan berdasarkan tingkat LDL-C dasar, tujuan terapi, dan respons pasien. Pencegahan primer: Awalnya, 10 mg setiap hari. Dosis yang lebih tinggi mungkin diperlukan untuk mencapai tingkat LDL-C sesuai dengan pedoman saat ini.

Cara dan waktu pemberian obat
Dengan/tanpa makanan.

3.GAGAL JANTUNG AKUT (3B)

Tuan C, usia 60 tahun datang ke IGD Puskesmas dengan keluhan sesak nafas saat beraktivitas, sesak berkurang saat istirahat, kalau tidur lebih nyaman dengan dua bantal, tengah malam sering terbangun karena sesak, mudah lelah. Keluhan dirasakan sejak dua hari yang lalu dan  makin memberat. Pasien juga menderita DM sejak tiga tahun yang lalu, berobat ke dokter mendapat obat glibenclamid tapi minumnya tidak teratur. Kebiasaan merokok sejak muda, 10-12 batang per hari, berhenti dua hari yang lalu karena sesak. Tidak pernah berolah raga. Hasil pemeriksaan fisik : Tensi 160 / 90, Nadi 90x/menit, RR 24x/menit, Suhu 37˚C, tampak distensi vena jugularis, batas jantung melebar, perkusi paru kanan kiri redup, terdengar ronchi pada kedua paru, terdengar suara jantung gallop (S3), edem pada kedua tungkai bawah. Hasil foto thorax : Kardiomegali & Edema paru / butterfly appearance. Dokter mendiagnosis Gagal Jantung Akut

Berikan terapi farmakologi dengan penulisan resep sesuai kaidah yang benar ! Jelaskan alasan pemilihan obatnya !

Resep

dr. Danial Habri

SIP 111239286

Jl. Kedung Sroko 48 Surabaya

Surabaya, 7 Oktober 2024



R/Tab Captopril 25 mg No. XXX

    S 2 dd tab 1 a.c

    —————————————————— paraf

R/ Tab. ISDN Sublingual 5 mg No. X

    S u.c

    —————————————————— paraf

 R/ Inj. Furosemide 10 mg/ml amp. No. V

    S i.m.m 40 mg IV 

    —————————————————— paraf

R/ Tab. Furosemide 40 mg No. XXX

    S 2 dd tab 1

    —————————————————— paraf

R/ Infus Ringer Laktat 500 ml fl. No. II

    S i.m.m

    —————————————————— paraf

R/ Oksigen nasal canule 2 liter/menit No. I

   S i.m.m

    —————————————————— paraf

R/ Spuit 3 cc No. V

  S i.m.m

    —————————————————— paraf

 R/ Nasal cannula oksigen dewasa No. I

    S i.m.m

    —————————————————— paraf

R/ Urine catheter set 18 Fr No. I

S i.m.m

    —————————————————— paraf




pro : Tn. C

umur/BB : 60 tahun 

alamat : -

Rasionalisasi terapi

Pasien ini mengalami gagal jantung (acute decompensated heart failure, ADHF) tipe wet-warm, dengan gejala kongesti yang lebih dominan dan hipertensi.

  • Captopril dan furosemide sebagai antihipertensi, sekaligus antiremodelling pada gagal jantung
  • ISDN sebagai vasodilator perifer dapat menurunkan preload jantung dengan cara meningkatkan kapasitas vena perifer sehingga darah dapat terdistribusi ke perifer, menurunkan tekanan ventrikel jantung, dan mengurangi beban kerja jantung
  • Furosemide sebagai diuretik untuk menguras kelebihan cairan di tubuh pasien

Furosemide
MoA
Aksi: Furosemid adalah turunan asam antranilat dan merupakan diuretik yang kuat. Obat ini terutama menghambat reabsorpsi natrium dan klorida di lengkung Henle yang naik serta di tubulus renal proksimal dan distal, mengganggu sistem kotransport pengikatan klorida, sehingga menyebabkan efek natriuretiknya.

Khasiat
Antihipertensi, diuretik

Efek samping
Signifikan: Hiperurisemia, peningkatan sementara hormon tiroid diikuti dengan penurunan tingkat total hormon tiroid (dosis >80 mg), aktivasi atau eksaserbasi lupus eritematosus sistemik (SLE), retensi urin; hipotensi, hipovolemia, dehidrasi; toleransi glukosa yang terganggu, hiperglikemia. Jarang, dapat menyebabkan gout.

Interaksi obat
Mengantagonisir efek diuretik dan meningkatkan risiko nefrotoksisitas dengan NSAID. Meningkatkan risiko diuresis yang dalam dengan metolazone. Meningkatkan risiko hipokalemia dengan diuretik thiazide, simpatomimetik Bz, teofilin, kortikosteroid, karbenoksolon, pencahar (penggunaan berkepanjangan), reboxetine, amfoterisin B, dan kortikosteroid. Dapat mengurangi efek agen antidiabetik. Efek yang berkurang dengan probenecid, metotreksat, dan fenitoin. Dapat meningkatkan risiko efek samping dari digoksin dan glikosida digitalis lainnya; toksisitas jantung dari obat antiaritmia (misalnya amiodaron, disopyramide, flekainid, kinidin, sotalol) akibat hipokalemia yang disebabkan oleh furosemid.

Dosis dan sediaan
Awalnya, 20-50 mg. Dosis disesuaikan dengan kebutuhan individu dan dapat ditingkatkan dalam kenaikan 20 mg setiap 2 jam. Maksimum: 1.500 mg per hari. Dosis diberikan melalui IV lambat atau melalui injeksi IM jika pemberian IV tidak memungkinkan. Dosis >50 mg harus diberikan melalui infus IV lambat. Maksimum laju infus atau injeksi IV: 4 mg/menit. Rekomendasi dosis dapat bervariasi antar negara dan produk individual (rujuk panduan produk spesifik).

Tablet: 40-80 mg/hari

Cara dan waktu pemberian obat
Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Dapat diambil bersama makanan untuk mengurangi ketidaknyamanan gastrointestinal.

4.SYOK HIPOVOLEMIK (3B)

Tuan D, usia 23 tahun, datang diantar polisi ke UGD Puskesmas dalam kondisi gelisah, setelah kecelakaan sekitar 1 jam lalu, mengalami patah tulang terbuka pada paha kanan dengan perdarahan massif, tidak muntah. Hasil pemeriksaan fisik : Kesadaran delirium, pucat, acral dingin & lembab, Tensi 80/50, Nadi 120x/menit, lemah, RR 24x/menit, Suhu 36,2˚C, Tidak tampak cedera di kepala , open fraktur femur dextra Dokter mendiagnosis syok hipovolemik et causa open fraktur femur dextra

Berikan terapi farmakologi untuk mengatasi syok hipovolemik dengan penulisan resep sesuai kaidah yang benar !

Jelaskan alasan pemilihan obatnya !

dr. Danial Habri

SIP 111239286

Jl. Kedung Sroko 48 Surabaya

Surabaya, 7 Oktober 2024



R/ Infus Ringer Laktat 500 ml fl. No. X

    S i.m.m

    —————————————————— paraf

 R/ Infus set adult No. I

    S i.m.m 

    —————————————————— paraf

R/ IV cannula 18G No. I

   S i.m.m

    —————————————————— paraf

 R/ Inj. Human tetanus immunoglobulin 250 IU No. I

    S i.m.m

    —————————————————— paraf

R/ Inj. Asam traneksamat 100 mg/ml amp. No. II

    S i.m.m

    —————————————————— paraf

R/ Spuit 5 cc No. V

  S i.m.m

    —————————————————— paraf





pro : Tn. D

umur/BB : 23 tahun 

alamat : -


Diberikan bolus cairan kristaloid untuk mengatasi syok hipovolemik sambil menunggu transfusi darah, asam traneksamat untuk menghentikan perdarahan, dan HTIG sebagai profilaksis infeksi tetanus pada luka kotor/terbuka.


Asam Traneksamat
MoA
Asam traneksamat adalah agen antifibrinolitik yang menghambat pemecahan gumpalan fibrin. Ini menghalangi situs pengikatan lisin dari plasminogen dan mengganggu proses fibrinolisis endogen, sehingga mempertahankan dan menstabilkan struktur matriks fibrin. Selain itu, asam traneksamat mengurangi peradangan yang terkait dengan angioedema herediter dengan menghambat aktivitas proteolitik plasmin yang mengurangi aktivasi komplemen dan konsumsi penghambat esterase C1 (C1-INH).

Khasiat
Antifibrinolitik

Efek samping
Defek visual (misalnya, perubahan dalam penglihatan warna, kehilangan penglihatan), oklusi vena dan arteri retina, konjungtivitis ligneous; kejang (terutama dengan dosis tinggi injeksi IV), reaksi hipersensitivitas yang parah (misalnya, anafilaksis atau reaksi anafilaktoid), trombosis vena dan arteri atau tromboemboli; edema serebral dan infark (terutama pada wanita dengan perdarahan subaraknoid), pusing.

Interaksi obat
Dapat memperburuk efek prokoagulan dari tretinoin oral pada pasien dengan leukemia promyelositik akut. Risiko trombosis meningkat dengan konsentrat kompleks faktor IX atau konsentrat koagulasi anti-inhibitor; hindari penggunaan bersamaan. Penggunaan bersamaan asam traneksamat dengan aktivator plasminogen jaringan dapat mengurangi efikasi kedua obat.

Dosis dan sediaan
Fibrinolisis lokal: 500-1.000 mg 2-3 kali sehari. Fibrinolisis umum: 1.000 mg (atau 15 mg/kg) setiap 6-8 jam. Dosis diberikan melalui injeksi lambat dengan laju tidak lebih dari 100 mg/menit.

Sediaan tablet 500 mg, injeksi 500 mg/5 ml

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Belajar Paru: Bronkiektasis

Bronkiektasis Pendahuluan Bronkiektasis adalah suatu kondisi yang ditandai secara patologis oleh peradangan saluran napas dan dilatasi bronkus permanen , serta secara klinis oleh batuk, produksi dahak, dan eksaserbasi dengan infeksi saluran pernapasan berulang. Definisi Bronkiektasis adalah kelainan morfologis yang terdiri dari pelebaran bronkus yang abnormal dan permanen akibat rusaknya komponen elastik dan muskular dinding bronkus. Epidemiologi 1. P revalensi bronkiektasis non-cystic fibrosis diperkirakan sebesar 52 kasus per 100.000, dengan jumlah total kasus diperkirakan lebih dari 110.000 di Amerika Serikat.  2. Studi yang lebih baru menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi yaitu 139 kasus per 100.000 orang.  3. Prevalensi bronkiektasis meningkat seiring bertambahnya usia dan tampaknya lebih umum pada wanita (1,3 hingga 1,6 kali lebih tinggi) dan orang Asia (2,5 hingga 3,9 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang Kaukasia dan Afrika Amerika).  Etiologi Bronkiektas...

Overfill vs Underfill Hypothesis in Edema

The overfill and underfill theories describe two different mechanisms that explain the development of edema, particularly in conditions like nephrotic syndrome and cirrhosis. Overfill Theory The overfill theory suggests that edema results from primary renal sodium retention. Key points include: 1. Primary Renal Sodium Retention: The kidneys retain sodium and water independently of the systemic circulation. 2. Increased Blood Volume: The retained sodium and water increase the blood volume, raising the hydrostatic pressure in the capillaries. 3. Fluid Leakage: The elevated hydrostatic pressure causes fluid to leak from the capillaries into the interstitial spaces, leading to edema. This mechanism is often associated with conditions where the kidneys are directly affected, such as certain types of nephrotic syndrome (cause retention of salt and water), acute/chronic kidney disease (reduced GFR, salt&water retention) Underfill Theory The underfill theory posits that edema is due to dec...

Ketoasidosis Diabetikum: Gula, Keton, dan Asam Bertemu di Darah--Kisah yang Ternyata Tak Seindah Itu

Kukira kita asam dan garam Dan kita bertemu di belanga Kisah yang ternyata tak seindah itu (Hati-hati di jalan; Tulus, 2022) Definisi Trias KAD: ketonemia, hiperglikemia, asidosis metabolik Etiologi Penyakit atau Infeksi: Infeksi adalah pemicu umum DKA karena meningkatkan kebutuhan insulin. Contoh infeksi meliputi pneumonia, infeksi saluran kemih, dan sepsis. Kondisi akut lainnya seperti stroke, infark miokard, dan pankreatitis juga dapat memicu DKA. Pengobatan yang Tidak Adekuat atau Terputus: Ketidakpatuhan terhadap regimen pengobatan insulin dapat menyebabkan DKA. Pengurangan dosis insulin yang tidak tepat atau penghentian pengobatan secara tiba-tiba. Stres Fisik atau Emosional: Kondisi stres berat baik fisik maupun emosional dapat meningkatkan hormon kontra-regulator seperti kortisol dan adrenalin, yang memperburuk hiperglikemia dan ketogenesis. Penggunaan Obat Tertentu: Penggunaan obat kortikosteroid dapat meningkatkan risiko DKA. Obat-obatan seperti tiazid, beta-blocker, dan sim...